Rembang (Pinmas)— Menteri Agama H Suryadharma Ali mengatakan sudah saatnya pondok pesantren memberikan pendidikan beraneka ragam ilmu. Bukan hanya terfokus pada pendidikan agama, tetapi juga pendidikan umum.
“Ini juga salah satu model bahwa pondok pesantren itu tidak eksklusif. Dilihat dari segi pemahaman juga bisa seimbang. Dan tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan umum,” papar Menag dalam Kuliah Umum dan Peresmian Gedung Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Jumat (7/9).Hadir Menteri Perumahan Rakyat H Djan Faridz yang sekaligus meresmikan Rusunawa Pondok Pesantren Al Anwar 3, Dirjen bimas Islam H Abdul Djamil, pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar KH Maimun Zubair dan undangan lainnya.
Menurut Menag, manakala masih ada santri yang menilai bahwa hanya ilmu agama saja yang berkaitan dengan sang Khalik, itu keliru.
“Harus mulai diubah cara berpikir kita, bahwa ilmu umum juga erat kaitannya dengan Allah,” ujarnya.
Allah menciptakan langit dan bumi dalam alam semesta ini harus dieksplorasi oleh makhluknya (manusia), dan Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa dari alam yang diciptakanNya.
Namun, lanjut Menag, sebuah Negara yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) seperti Indonesia masih belum sejalan dengan kekayaan materi yang didapatnya.
“Itu karena, selama ini kita masih sedikit dari generasi kita yang enggan mendalami pendidikan alam atau umum,” ucap Menag.
Ia mencontohkan, bagaimana mungkin bisa mengelola atau memanfaatkan kekayaan alam yang ada di negeri ini, tanpa memahami ilmu yang bersinggungan dengan alam.
“Karena itu, semestinya para santri yang sejatinya mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren (Ponpes) harus mulai membuka diri dengan ilmu pengetahuan umum, agar menjadi santri yang memahami dalam mengelolaan ciptaan Allah (alam) tersebut,” urainya.
Dengan pemahaman ilmu pengetahuan alam, santri sebagai generasi bangsa juga tidak dipandang sebelah mata, hanya sebagai kaum sarungan yang hanya menjiawai ilmu agama tanpa memperhatikan alam disekitarnya.
“Kehadiran STAI Al-Anwar ini diharapkan menjadi pendidikan tinggi agama yang betul-betul terbuka dengan anekaragam ilmu. Kaeran, mahasiswa yang mau berkembangan adalah yang terbuka dengan berbagai ilmi selain agama,” tandas Menag.
Saya tidak khawatir apabila pemikiran mahasiswa di STAI ini melanglang buana akan tersesat ditengah jalan. Sepanjang ilmu agama tetap dijadikan pedoman dalam menerima keterbukaan pemikiran terhadap ilmu umum tersebut,” katanya.
Dengan memiliki kemampuan tersebut, kata Menag, makan STAI Al-Anwar mampu membawa para santri atau mahasiswanya sebagai santri yang ilmuan, tepatnya Sarjana yang santri.“Sarjana yang santri, adalah seseorang yang mumpuni dibidang pengetahuan umum (alam), namun setiap langkahnya didasarkan ketaqwaan kepada Allah SWT,” katanya. (dik)
Senin, September 10, 2012
walso
0 komentar :
Posting Komentar