10/09/12


Kupang --- Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan merupakan salah satu metode untuk mentrasformasikan nilai-nilai penguatan karakter bangsa. Agar nilai tersebut dapat tercapai, PENTAS dikemas dalam berbagai bentuk kegiatan yang melibatkan peserta didik mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Demikian disampaikan Direktur Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud, Endjat Djaenuderadjat di Aula El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (10/9). Hadir pula dalam acara pembukaan PENTAS di antaranya Wakil Gubernur NTT, Esthon L. Foenay, Wakil Wali Kota Kupang, Herman Man, serta sejumlah narasumber, seperti Taufik Abdullah dan Susanto Zuhdi.
“Salah satu program karakter bangsa yang masih dilakukan hingga saat ini, misalnya lawatan sejarah, yaitu membawa guru dan siswa mengunjungi titik-titik situs-situs kesejarahan, termasuk di dalamnya situs-situs kepahlawanan,” papar Endjat di hadapan tamu undangan.
Melalui program tersebut, siswa diajarkan filosofi mengapa pahlawan asal daerah tertentu, justru ditemukan makamnya di wilayah lain. Cut Nyak Dien, misalnya. Pahlawan wanita asal Aceh itu dimakamkan di Sumedang, Jawa Barat. Oleh masyarakat Aceh, Cuk Nyak Dien dianggap sebagai pahlawan. Demikian pula oleh masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa pahlawan yang dikenal pemberani tersebut merupakan pahlawan mereka. Kepemilikan pahlawan oleh masyarakat daerah tertentu di Indonesia juga terjadi misalnya pada Pangeran Diponegoro yang dibuang dan gugur di Makassar serta Sultan Badaruddin asal Palembang yang dibuang ke Ternate. 
Masyarakat setempat tetap menganggap bahwa para pejuang bangsa yang gugur di daerahnya, meski bukan berasal dari daerah itu, adalah pahlawan mereka.  Ini membuktikan bahwa meski perbedaan itu ada, namun sejarah dan kepahlawanan menciptakan harmoni di dalamnya. “Merupakan suatu keniscayaan bahwa pahlawan yang mendahului kita itulah yang mengikat kita dengan ikatan simpul ke-Indonesia-an. Itulah yang dikenalkan kepada siswa yang sampai saat ini lawatan sejarah itu tetap terbangun dan dijalankan programnya melalui Kemdikbud,” ungkap Endjat.
Selain itu, semangat kesejarahan adalah modal bangsa untuk membangun kebanggaan terhadap bangsa. Endjat memaparkan tentang sebuah buku yang ditulis oleh orang Irak pada 1980-an bercerita tentang keterhinaan warga Afrika hitam oleh orang Barat yang dinilai sebagai bangsa yang tidak berotak karena tidak memiliki kejelasan sejarah. Hal itu dikarenakan ketidakpedulian masyarakat Afrika terhadap sumber-sumber sejarah bangsa tersebut yang diambil oleh bangsa Barat sehingga hanya tersisa sedikit saja peninggalan sejarah bangsa Afrika.
“Apabila  kita ingin menghindari keterhinaan ini, mari kita pelihara nilai-nilai dan sumber sejarah itu. Kita titip kepada generasi muda kita untuk terus memelihara nilai-nilai sejarah kepahlawanan tersebut,” harapnya.
Endjat mengungkapkan dipilihnya NTT sebagai tempat penyelenggaraan PENTAS didasarkan pada beberapa pertimbangan. Provinsi tersebut, menurutnya, memiliki riwayat kesejarahan yang panjang. “Di tempat ini seperti kita ketahui berdasarkan sejarah adalah tempat pembuangan Soekarno. Di sinilah Soekarno berpikir tentang landasan negara yang kemudian kita kenal dengan Pancasila,” ungkapnya.
Selain itu, NTT juga dinilai berhasil memelihara keharmonisan di antara masyarakat yang hidup di provinsi tersebut. Meski terdapat dua golongan mayoritas agama di NTT, namun keduanya mampu hidup berdampingan dalam damai. “Hal ini perlu kita tiru,” kata Endjat.
PENTAS digelar mulai Senin (10/9) hingga Jumat (14/9) dengan sejumlah kegiatan, di antaranya diskusi kesejarahan, dialog budaya, lomba lukis dengan tema budaya, pameran, pemutaran dan diskusi film, serta kunjungan ke destinasi sejarah di wilayah Kupang. Wakil Gubernur NTT, Esthon L. Foenay  membuka secara resmi kegiatan yang melibatkan pula 100 mahasiswa dari perwakilan daerah yang terseleksi. (RA)

0 komentar :

Posting Komentar